Rumah Pendiri Desa Bomba di Bada Valley

Rumah Pendiri Desa Bomba di Bada Valley

“Wander to a new place at least once a year” adalah mantra. Kali ini bukan cuma satu tempat baru yang didapat tetapi beberapa, ditambah bonus teman-teman baru. Sebuah perjalanan hasil bertanya mengenai kegiatan setelah libur Lebaran. Perjalanan yang didapat setelah bekerja keras berbulan-bulan dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk mengumpulkan pengalaman menarik.

Menurut banyak orang di hari tua nanti kita akan lebih bahagia mengingat hal-hal menarik yang pernah dilakukan daripada mengingat benda-benda duniawi yang pernah kita miliki. Maka melakukan perjalanan untuk membuat persimpangan dengan banyak orang adalah investasi yang menurut saya berharga untuk hari tua nanti.

Lalu pada suatu hari seorang teman bercerita ia diminta menemani klien kakaknya berwisata ke Sulawesi Tengah. Masuk ke dalam Taman Nasional. Tampak menarik dan sesuai dengan mantra saya, apalagi saya sedang tidak ada inspirasi tujuan perjalanan.

Maka saya sedikit membujuk pemilik Travel Plus (penyelenggara trip) supaya diperkenankan ikut dalam rombongan trip. Walaupun saat saya membaca susunan itinerary nya, tidak ada satupun dari daftar itu yang saya pahami atau sempat terpikir untuk melakukannya di bagian hidup saya manapun. Melihat penangkaran burung Maleo, melihat megalith di Bada Valley, mengunjungi habitat Tarsius dan mengamati burung di Lore Lindu bukanlah tujuan hidup saya selama ini.

Tetapi saya membiarkan alam semesta membimbing, dan tidak lama kemudian akhirnya saya sudah berada di Airport pada dini hari tanggal 28 Juli 2015 untuk menuju Sulawesi Tengah. Sebuah pulau yang belum pernah saya pijak sebelumnya.

Setelah mendarat di sana saya berkenalan dengan peserta trip yaitu Thea dan Anette, dua orang pengajar dari Belanda yang sudah berusia lewat setengah abad namun masih segar dan mampu berjalan jauh. Saya juga akhirnya berjumpa kembali dengan Heidy, yang sudah berbulan-bulan tidak berjumpa. Ia mewakili Travel Plus sebagai penyelenggara kegiatan trip Sulawesi Tengah ini.

Malam pertama di Sulawesi Tengah dihabiskan di kota Palu sambil melihat-lihat kota, lalu di hari kedua kita menghabiskan waktu 11 jam di jalan menuju Lembah Bada untuk melihat megalith-megalith terbesar di daerah situ.

Pemandangannya sangat mengagumkan, dan berjalan menyusuri desa kemudian melewati persawahan organik adalah sureal bagi saya, belum lagi momen menemui patung berusia lebih lama dari peradaban manusia modern adalah ajaib. Saat menulis blog ini saya sempat berfikir seminggu kemarin adalah mimpi, untung saya ada foto-foto untuk mempertegas kalau kemarin itu adalah pengalaman yang nyata.

Namun begitu hasil terbaik dari perjalanan ini adalah perbincangan dengan pribadi-pribadi yang ada di perjalanan ini.

Beberapa topik yang menjadi perbincangan adalah mengenai peradaban, identitas, sejarah dan pemerintahan. Saat sarapan pagi kita berbicara mengenai identitas dan paranoid masyarakat dan pemerintah mengenai imigran, muncul satu kalimat yang kemudian menjadi sangat penting bagi saya “When a face got a name”. Kutipan berharga dari Thea, seorang guru bahasa Belanda yang sangat kritis dalam menyikapi berbagai hal di sekitarnya.

Perbincangan mengenai identitas individu ini membuat sarapan di desa menjadi berbobot, saya lansung mendapat energi yang lebih dari cukup untuk melanjutkan perjalanan jauh.

Ingatkah seberapa sering kamu menggunakan kata “Mereka” untuk menunjuk sekelompok orang dan menghakimi mereka secara general? Ingatkah seberapa sering politikus menggunakan istilah ‘Rakyat’ untuk mengklaim dukungan? seberapa sering aktifis menggunakan istilah ‘Buruh tertindas”?.

Sementara saya sendiri juga sadar di sekitar saya banyak juga orang yang cuma ‘orang’ sekali dilihat besok sudah lupa, cuma figuran saja. Banyak juga satpam yang cuma satpam bukan pak Udin seorang satpam yang anaknya sedang sakit, atau buruh yang sekedar buruh bukan Ibu Bariah seorang pekerja honorer di pabrik semen yang sebenarnya tidak membutuhkan televisi berwarna karena ia lebih suka pertunjukkan wayang orang.

Tidak mudah memang mendapatkan nama dan mengenal semua individu masing-masing, tetapi kita bisa memulai dengan sedikit demi sedikit. Melihat manusia sebagai manusia bukan sekedar objek foto.

Di bawah akan ada foto ibu petani yang tidak saya kenal nama dan ceritanya. Saya hanya mengetahui kalau ibu petani yang merawat padi varietas ungul yang hanya dipanen setahun sekali dan dirawat tanpa menggunakan pestisida, organik kalau istilah orang kota. Pagi itu ada variasi menyenangkan waktu merontokkan padi di hidup ibu petani. Hari itu sang ibu tampak bahagia berbagi momen merontokkan padi di pagi hari bersama oma-oma bule dari Belanda.

Mungkin akan lebih berkesan jika saya sempat berbincang lebih lama dengan ibu itu dan mengenalnya.

Jika ada waktu dan kesempatan cobalah berkunjung ke desa ini dan bermalam lebih lama. Lembah Bada ini sangat bagus dan menarik, sayang saja tidak ada buku atau sarana informasi yang lengkap dan komprehensif untuk dimiliki atau dibaca di lokasi. Akan menjadi memento yang sangat menarik, dan wajah-wajah ramah itu akan lebih berkesan saat kamu mengenal nama-nama dan cerita mereka.

tips:
• Dalam perjalanan melintasi Trans Sulawesi dari kota Palu menuju Bada Valley, kamu akan melewati Kampung Bali dengan suasana yang sangat menyerupai jalan antar kota di Bali. Coba untuk berhenti sejenak di salah satu Pura dan (tentu saja) dokumentasi, akan lebih menarik jika bisa ngobrol-ngobrol sebentar dengan penduduk.

• Bahasa di Sulawesi Tengah sangat bervariasi, cobalah menanyakan dan mencatat beberapa kosa kata dari setiap suku yang ada. Misal : Selamat Pagi, Apa kabar, permisi, terima kasih, sampai jumpa. Kalau ada perekam, coba rekam logat-logatnya juga.

• Usahakan dapat melihat dan menanyakan sejarah seluruh situs megalith. Total menurut buku panduan ada 14 titik. Setelah itu coba cari informasi mengenai megalith lain di sekitar Indonesia dan Asia, kemudian bandingkan dengan sejarah peradaban di Amerika Latin.

• Bawa buku catatan atau perekam.

• Dokumentasikan bentuk-bentuk Gereja yang ditemui sepanjang perjalanan.

• Untuk non-Muslim, selain Kaledo kamu juga perlu berburu babi tore di restoran Menado.

• Jalan-jalan keliling desa, kalau bisa juga usahakan nongkrong di warung setempat dan banyak bertanya mengenai sejarah desa. Kapan desa berdiri, mayoritas bekerja sebagai apa, humor lokal, mitos-mitos lokal.

To be continue.

pt.02
pt.03

Megalith at Bada Valley

Megalith at Bada Valley

somewhere on Central Sulawesi

somewhere on Central Sulawesi

beautiful Bomba Village

beautiful Bomba Village

merontokkan padi beras Bada

merontokkan padi beras Bada

Mountains

Mountains

Lotus pond

Lotus pond

A beautiful long and winding road.

A beautiful long and winding road.

the famous Bada Organic Rice

the famous Bada Organic Rice

Boron and Megalith

Boron and Megalith

Bada Valley

Bada Valley

Bada Valley

Bada Valley

An ancient house at Bada Valley

An ancient house at Bada Valley

The Biggest Megalith in Bada Valley

The Biggest Megalith in Bada Valley

The trip entourage

The trip entourage posing with Palindo the Entertainer

Palindo and Boron

Palindo and Boron

Bada Valley

Bada Valley

Route of Bada Valley

Route of Bada Valley

Going back

Going back

beautiful field

beautiful field

Bada Valley

Bada Valley

Bada Valley

Bada Valley

Bada Valley

Bada Valley

Lake Poso

Lake Poso

Cloves

Cloves

Kampung Bali di daerah Parigi, Sulawesi Tengah

Kampung Bali di daerah Parigi, Sulawesi Tengah

%d bloggers like this: