Pulang ke Wae Rebo

Seringkali dalam sebuah trip, perbincangan dengan teman seperjalanan itu juga sama berkesannya dengan perjalanan dan tujuan dari perjalanan itu sendiri.

“Be here now”

adalah kata yang sudah sering saya dengar, dan kali ini saya dengar kembali dari oom Dondy Bratha. Ia bercerita tentang konsep mengenai bersatunya jiwa dan raga untuk menjadi manusia yang paripurna.

Untuk menjadi satu dan mengalami keadaan saat ini dan di tempat ini. Satu kalimat sederhana yang membantu saya menikmati setiap detik dan langkah dalam perjalanan panjang menuju desa Wae Rebo.

Sudah cukup lama saya merencanakan trip ini, sempat juga menggalang dana via #Artfortrip. Sempat tertunda karena berbagai hal, dan akhirnya perjalanan ini jadi juga dan membuat saya banyak belajar mengenai berbagai hal di perjalanan panjang ini. Di mana awalnya merasa saya sebagai orang kota memiliki lebih banyak privilese dan ingin berbagi, ternyata justru mereka yang memiliki lebih banyak kebahagiaan dan kebijaksanaan walaupun berada di daerah yang sangat jauh.

Perjalanan ini diprakarsai karib saya Ryan Koesuma yang sedang merencanakan trip selama libur panjang bersama teman-teman menyelamnya. Kita berangkat dengan anggota rombongan lima orang; saya, Ryan, Effendy, Roy, dan oom Dondy. Kecuali saya yang memutuskan akan pulang setelah Wae Rebo, yang lainnya melanjutkan trip dengan menyelam di perairan Flores.

Menuju Wae Rebo saat ini sudah lebih mudah dibanding sebelumnya, karena jalan raya beraspal mulus sudah siap dilewati mobil dari Labuan Bajo sampai Desa Denge. Perjalanan selama tujuh jam menjadi tidak membosankan karena pemandangan yang indah, dan kita bisa berhenti beberapa kali untuk mengapresiasi alam pantai dan gunung.

Berlima plus sopir bernama pak Lexi, kita melintasi jalan trans Flores dari Labuan Bajo menuju Desa Denge. Desa berpenduduk terakhir sebelum mencapai Wae Rebo. Kamu bisa menghubungi pak Lexi di nomer 085339002749 bilang aja tau dari Eric.

Di Desa Denge ini ada penginapan yang dikelola oleh pak Blasius Monta, yang juga merangkap kerja sebagai guru sekolah di SD Denge. Beliau adalah salah satu tokoh penting yang tercantum di buku “Pesan dari Wae Rebo”  oleh Yori Antar. Sempatkan diri kamu untuk membaca buku bersampul biru tersebut jika menginap di Denge Home Stay dan berbincanglah dengan pak Blasius atau anaknya mengenai Wae Rebo jika bisa.

Selain di Denge, kamu juga bisa menginap di Dintor. Penginapan menghadap laut yang dikelola oleh pak Martinus yang juga adalah kakak dari pak Blasius. Lokasinya sekitar 4 km sebelum desa Denge.

Di desa ini kami menyerahkan beberapa buku bacaan anak-anak kepada pak Blasius untuk menjadi koleksi perpustakaan di SD Denge.

Sekalian juga memberikan sebuah tanda mata berupa t-shirt, yang khusus didesain oleh National Perks untuk mendukung perjalanan ini.

Besok pagi sekitar pukul delapan kami memulai perjalanan, dan beruntung karena jarak trekking sekarang sudah didiskon 2 km jalan aspal yang bisa dilalui mobil. Sehingga menghemat tenaga dan waktu.

Tetapi kebetulan saya sedang tidak fit, menyebabkan saya sudah teler di 200 meter pertama di jalur menanjak. Kemudian muntah-muntah tidak jauh dari lokasi teler pertama. Mulai pusing karena darah tidak mengalir lancar ke kepala, sehingga saya disarankan untuk tidur sebentar oleh teman-teman lainnya.

Awalnya sungkan karena jadi menghambat perjalanan naik, namun yang lain meyakinkan untuk tenang saja, yang penting kita tetap naik. Maka saya tidur, berkonsentrasi dan merenungkan kalimat “Be Here Now”.

Sambil mengatur napas dan membiarkan darah mengalir lebih lancar, saya memperhatikan dedaunan yang bergerak dilewati angin, awan-awan yang berbaris, suara-suara burung, sampai suara-suara langkah yang lewat di samping.

Menyadari kalau selama perjalanan di awal tadi saya lebih banyak berfikir mengenai tujuan, ingin foto ini itu, kepikiran macam-macam sehingga lupa dengan nafas dan kalau trekking ini juga sebaiknya dinikmati selagi ada kesempatan.

3 kali saya berhenti untuk izin tidur sebentar, dan beberapa kali untuk mengatur napas sepanjang 2.5 kilometer pertama. Setelah itu, jalur menjadi relatif lebih mudah dilewati dan kita sampai di Pondok Kasih Ibu setelah 4.5 jam.

Rata-rata rombongan lain menempuh rute trekking dalam waktu 2-3 jam. Ada juga yang ngebut dan sampai dalam waktu 1.5 jam.

Sesampainya di desa, kami menyimpan semua kamera demi menghormati salah satu tata cara berkunjung ke Wae Rebo: Tidak boleh merekam sebelum melewati upacara adat.

Kami disambut di Rumah Utama oleh Ami Raphael, salah satu tetua adat. Beliau menyambut kami dan membacakan sebuah doa yang kurang lebih artinya menjelaskan kalau saya bukan lagi orang luar, tetapi anak kandung Wae Rebo yang sedang pulang menengok kampung halaman.

Terharu saya, karena dengan ini saya bisa ‘pulang’ kelebih banyak tempat. Setelah sebelumnya di beberapa desa lain yang pernah dikunjungi juga disambut untuk menjadi bagian keluarga. Hanya saja sayangnya saya belum sempat ‘pulang’ lagi ke banyak ‘rumah’ tadi.

Di rumah utama ini tergantung seperangkat alat tabuh, yang sebaiknya kamu tanyakan sendiri mengapa tergantung disitu jika mencapai Wae Rebo.

Setelah upacara adat yang singkat, kami bersalaman dan berkenalan. Hal yang menarik, karena kita selalu berkenalan dengan setiap warga Wae Rebo yang dijumpai sejak dari Denge. Rupanya perkenalan itu lebih dari sekedar keramahan, karena yang disebut keluarga kan memang sebaiknya saling mengenal nama.

Seselesainya upacara adat, kami semua menuju rumah Mbaro Niang paling ujung dan beristirahat.

Akhirnya kami berhasil pulang ke Wae Rebo.

•••

Video pengenalan bahasa singkat ini saya buat karena terinspirasi dari ragam bahasa yang ada di Indonesia. Walau belum komprehensif, tapi saya rasa cukup untuk dihafalkan sedikit. Jadi kalau kamu berhasil ‘pulang’ ke Wae Rebo, masih ada bahasa ibu yang bisa diucapkan.

ps:
• Kontak pak Blasius Monta di 081339350775. Sebaiknya via SMS karena sinyal susah. Kamu bisa bertanya detail harga-harga apa saja yang perlu kamu siapkan. Penginapan, Porter, Menginap di Wae Rebo dan administrasi.
• Di Wae Rebo kamu akan tinggal di ruangan besar bersama 25 orang lain, maka siapkan diri menghadapi berbagai macam manusia. Akan ada yang ngorok, dan lain-lain.
• Pastikan perbekalan mu cukup. Selagi di kota, persiapkan snack, air minum dan vitamin jika dibutuhkan. Karena kadang jadwal makannya rada telat.

cara menuju wae rebo
Menuju Wae Rebo
menuju ke wae rebo
Berhenti sebentar menikmati alam
menuju ke wae rebo
menuju ke wae rebo
Denge Home Stay
Desa Denge, desa terakhir sebelum trekking ke Wae Rebo
Wae Rebo kids
Sesi bermain dengan kamera. Hasilnya adalah foto di bawah
wae rebo
Marcel, Bapak Raphael, dan dua cicitnya
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo coffee
Wae Rebo coffee
Wae Rebo
Wae Rebo guide
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo Kid
Wae Rebo
Wae Rebo kids
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
kopi Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo

Selepas perjalanan ini, saya mencoba membuat illustrasi.

Leave a Reply