Harimau! Harimau!

Karya sastra legendaris karya Mochtar Lubis ini sudah beredar puluhan tahun, dan jika saja buku ini tidak dijual di Kedai Tjikini 17, bisa jadi saya tidak akan terpapar dengan keindahan isi buku ini.

Setelah selesai membaca buku ini, akhirnya saya menyadari kalau buku-buku sastra yang saya sukai biasanya mengandung beberapa elemen cerita berikut:

• Darah.
Bisa berarti terjadi pembunuhan, pembantaian, atau kematian akibat pertikaian. Yang akan lebih relevan jika darah tersebut tertumpah karena alasan;

• Perebutan Kekuasaan/Dominasi.
Baik dalam hal ingin menjadi penguasa suatu daerah atau kerajaan, atau sekedar keinginan menjadi tokoh yang dihargai.

• Adegan Sex
Adegan cabul, mesum, bercinta disebuah cerita adalah tantangan yang menuntut kreatifitas seorang pengarang bermutu menegaskan batas tipis antara karya sastra dan stensilan.

• Perjalanan atau Petualangan.
Perjalanan jauh tanpa batas adalah aspirasi saya, sebuah hal yang ingin sekali bisa saya lakukan namun tidak banyak kejadian karena berbagai kendala. Sehingga cerita-cerita dengan elemen perjalanan akan menarik bagi saya. Walaupun sekedar perjalanan dari dalam hutan menuju arah pulang kekampung seperti di novel ini.

• Makanan
Saya juga suka cerita dengan elemen makanan. Walaupun sekedar memanggang daging rusa di api ungun. Asal ada satu adegan salah satu tokoh menghargai makanan dengan baik, buat saya sudah cukup.

Dan Harimau! Harimau! memiliki semua elemen tersebut. Maka saya sangatlah terhibur oleh buku ini.

Ditambah dengan kepiawaian Mochtar Lubis dalam membangun karakter setiap tokoh yang ada. Buku ini membuat saya kagum dengan tokoh Pak Haji yang petualang, mungkin bisa dibuat satu buku sendiri yang memiliki kelima elemen cerita diatas. Buku ini juga membuat saya berempati dengan Buyung yang pandai dalam banyak hal dan berhati baik, juga sukses membangun karakter Wak Katok yang berwibawa.

Dan setelah kita mulai merasa mengenal semua tokoh, muncullah sang Harimau.

Yang mana, karakter sang Harimau inilah yang menunjukkan kemampuan Mochtar Lubis sebagai seorang penulis cerita sejati. Saya merasa bahagia bisa mengenal karyanya, walaupun tertunda puluhan tahun.

Harimau! Harimau!
Harimau! Harimau!

Leave a Reply