Tianjin

Saya selalu suka daerah China Town jika berkunjung ke suatu kota, bahkan di Jakarta sendiri. Mungkin karena permasalahan identitas atau mungkin saya suka makanannya yang saya duga adalah warisan leluhur.

Karena makanan dan masalah identitas itulah, maka menuju kota di daratan China itu mirip “napak tilas” perjalanan leluhur.

Walau ya belum tentu leluhur saya yang sebenarnya itu berasal dari kota Tianjin yang saya sambangi ini.

Tianjin ini, tampaknya bukan kota asal leluhur saya karena makanannya rada beda dengan yang biasa dihidangkan keluarga saya. Tetapi statusnya sebagai salah satu kota terbesar di Tiongkok membuat saya cukup yakin kalau ada nenek moyang saya yang pernah menginjakkan kaki di kota ini. Hal tersebut sudah cukup bagi saya (untuk saat ini).

Tianjin adalah kota yang berperan sebagai gerbang masuk ke Beijing, tempat komando pertahanan militer jika terjadi serangan dari Timur. Karena peran penting tersebut, tidaklah heran kalau kota Tianjin saat ini sangat modern, rapih dan bersih.

Di pinggiran kota ini terdapat fasilitas pengolahan sampah yang sangat modern, dimana sampah-sampah kota bisa menjadi energi.

Di kota ini juga terdapat fasilitas pengolahan air limbah menjadi air bersih. Sungguh merupakan masa depan yang saya impikan bagi kota tempat saya tinggal.

Sayangnya saya tidak banyak mengeksplorasi kota ini karena sempitnya waktu, namun saya bisa bilang Tianjin memiliki hidangan berbahan dasar daging bebek yang asoi.

Jangan lewatkan restoran “Go Believe” yang menyediakan masakan khas Tianjing. Menurut orang lokal, restoran ini menyajikan bakpao terenak di daerah situ. Saya sih setuju aja, tapi yang berkesan buat saya adalah kulit bebek digulung telur dadar dan oleh-oleh khas Tianjin; kue tambang.

Beberapa diantaranya ada di foto.

Enjoy.

(Bersambung)

Difoto menggunakan Huawei Mate 9, Leica Lens.

Nanjing

Berkunjung ke negeri Tiongkok adalah salah satu cita-cita saya sejak kecil, maka tentu saja saya tidak menolak saat kantor saya mendapat undangan untuk berkunjung ke negeri leluhur saya ini.

Kita diajak mengunjungi beberapa kota dan Nanjing adalah pemberhentian pertama.

Kita lansung menuju Nanjing dengan kereta cepat dari Shanghai. Kereta ini berkecepatan 305km/jam dan melaju sangat mulus tanpa getaran. Tidak sabar rasanya menantikan Indonesia memiliki kereta secepat ini untuk berpergian ke berbagai kota dalam satu pulau.

Stasiun kereta di Shanghai sangat bagus, canggih dan bersih.

Saya datang ke China dengan bayangan hasil cerita dari teman-teman yang bilang di China itu orangnya jorok-jorok. Tapi rupanya kota mereka lebih bersih dari Jakarta, cuma ya kalau urusan toilet, pasrahin aja. Bisa dapat yang sudah disiram saja itu bisa dibilang beruntung, walau itu di mall kelas atas.

Stasiun Nanjing
Nanjing traffic

Walau wc umumnya pada jorok, tapi kotanya sangat bersih. Walau manusianya kadang suka nyerobot antrian, tapi kalau berkendara mereka mau antri. Sehingga ga macet-macet banget walau padat.

Nanjing red light district
Bar and clubs area

Di dekat hotel saya itu ada area dimana bar, club, dan spa bertebaran. Kalau kita lewat akan banyak yang menawarkan jasa “teman perempuan”, berhati-hatilah dan sebaiknya ditolak. Karena prostitusi dilarang di China dan tidak sedikit turis yang kemudian terjebak dan diperas oleh oknum-oknum.

Mereka tidak akan memaksa atau terus membujuk jika kita sudah menolak jasa mereka.

Termasuk juga kalau kamu sedang di bar atau club dan ada perempuan berpakaian minim nyamperin, jangan ge’er dulu, lansung tolak saja. Kamu tidak ingin berakhir di penjara atau kehabisan uang saku karena diperas kan?.

Kota Nanjing ini sangat bersih dan bangunan-bangunan di daerah saya menginap masih relatif baru dan bersih. Tidak jauh juga dari lokasi, kita menemukan daerah yang tampaknya lebih tua dan lebih ramai dengan tempat makan kecil-kecil yang aromanya lezat.

Salah satu yang berkesan adalah makan di restoran khas Hunan yang berada di Deji Plaza. Rasa masakannya sangat khas, dan meninggalkan kesan. Terutama mie sapi dan iga babi yang garing berbumbu sechuan. Masakan-masakannya kaya bumbu dan semua lezat. Oiya masakan Hunan ini cenderung pedas, dan pedasnya meresap sampai kedalam daging yang dihidangkan.

Saya jadi heran, kenapa pada bilang makanan di Tiongkok itu hambar ya? Mungkin mereka salah pilih restoran.

Bakcang tapi isinya kacang manis

Setelah dua malam di Nanjing berkeliling kota dan juga mengunjungi fasilitas pengolahan air dan limbah, akhirnya kita harus lanjut ke kota berikutnya; Tianjin.

Perjalanan akan kembali ditempuh menggunakan kereta cepat yang nyaman itu.

oiya, saran aja nih, misal pertama kali ke Tiongkok (seperti saya) baiknya install wechat. Karena sebagian besar orang disana sudah pakai wechat dan ada fitur translate didalamnya. Jadi mempermudah komunikasi dengan orang lokal yang juga seringkali tidak bisa berbahasa Indonesia. :p

(to be continue)

Nanjing Train Station
Stasiun kereta Nanjing
Nanjing Train Station
Nanjing Train Station
Speed train china
Tidur di kereta cepat.
Speed train china
Speed train
Nanjing
Bareng anak anak kantor

Naik Kereta Api

Stasiun Kereta Api Bandung

Membeli tiket kereta api dari PT KAI sekarang sudah jauh lebih mudah dibandingkan saat saya masih kuliah di tahun 2000-an awal. Dulu saya harus datang ke stasiun lalu ngantri beli tiket di loket. Karena sering kehabisan, maka waktu itu saya seringkali harus nongkrong di bordes atau gerbong makan demi bisa pulang naik kereta.

Tapi itu dulu, saya sudah bertahun-tahun tidak naik Kereta Api karena berbagai alasan. Salah satu yang yang terutama adalah karena beberapa tahun yang lalu tol Cipularang dibuka dan perjalanan menuju Bandung bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih dua jam saja. Dibandingkan Kereta Api yang waktu itu memakan waktu 4 sampai 6 jam, maka tentu saya memilih naik shuttle.

Tapi gara-gara sekarang ada jalur yang dipadati truk kontainer maka durasi ke Bandung jadi 3.5 jam lebih karena macet. Dengan demikian moda transportasi Kereta Api menjadi terasa lebih afdol. Bisa duduk santai, perjalanan lancar sambil menikmati pemandangan di luar kereta api. Di Kereta Api bisa duduk santai dan tidak perlu khawatir kalau kebelet pipis karena ada toilet yang relatif bersih di gerbong kereta.

Nah sekarang kalau mau beli tiket kereta api sudah semakin praktis, karena sekarang kita bisa membeli tiket kereta menggunakan berbagai aplikasi.

Tinggal klik, pilih metode pembayaran, bayar dan tiket dirilis. Asal jangan terlalu mepet tanggal keberangkatan, karena tiket Kereta Api cepat habis. Sudah ga ada tuh naek kereta api lalu nongkrongnya di bordes.

Disarankan juga untuk mengunduh aplikasi dari PT KAI sehingga kita bisa check in online dan tidak perlu antri lagi demi nyetak boarding pass. Karena membaca anjuran untuk datang paling tidak sejam sebelum jadwal keberangkatan, maka saya sudah siap sedia 1 jam 30 menit sebelum, sebagai newbie saya tidak ingin ketinggalan kereta api dari Bandung menuju Jakarta.

Maka saya datang awal, nyetak boarding pass lalu duduk santai sambil ngopi sampai waktu boarding tiba.

Setelah waktu boarding tiba, saya ngantri memasuki peron dan mencari Kereta Api saya. Setelah menemukan tempat duduknya, saya merasa kelas eksekutif ini bangkunya agak sempit. Yang tadinya saya pikir akan ada semacam meja untuk nyicil kerjaan atau nonton menggunakan tablet juga tidak ada. Apa mungkin fasilitas itu ada di kelas yang lebih tinggi?

Karena tidak bisa bekerja atau nonton film downloadan, jadi saya tidur saja dan sesekali terbangun untuk menikmati pemandangan dari luar jendela lalu foto-foto.

Ini hasilnya, yang diambil menggunakan Huawei Mate 9 berlensa Leica.

pt kai
Stasiun Kereta Bandung
Coffee shop di Stasiun Kereta Bandung
Coffee shop di Stasiun Kereta Bandung
Tiket kereta api
Peron
pt kai
Rel Kereta Api
pt kai
Kereta Api
Pt kai
Stasiun Kereta Bandung
Kereta Api
Stasiun Kereta Api Bandung
Kereta Api
Wastafel
Beli tiket kereta api
Tiang listrik
Beli tiket kereta api
Sungai
pt kai
Sawah
Kereta api
Kuburan gerbong
Langit
Langit
Gedung
Gedung
Kereta api indonesia
Ruang kaki
Stasiun gambir
Stasiun gambir
Stasiun gambir
Stasiun gambir

When in Paris

Arc de triomphe Paris

I went to Paris with the Respublica kids and taking the opportunity for photos, eating, coffee, and walking.

Paris
31 January – 7 February 2018

Tour Eiffel
Tour Eiffel
Restaurant Rapide Paris
Restaurant Rapide Paris

Tour Eiffel
Tour Eiffel
Fruit
Fruit
Sticker Art Paris
Sticker Art Paris
Sticker Art Paris
Sticker Art Paris
Snow in Paris 2018
Snow in Paris 2018
Snow in Paris 2018
Snow in Paris 2018
Snow in Paris 2018
Snow in Paris 2018
Snow in Paris 2018
Snow in Paris 2018
Snow in Paris 2018
Snow in Paris 2018

Chinatown Singapore

Chinatown Singapore

While in Singapore, strolling over the Chinatown Street Market is a must and do your best to do it just before dusk or the ‘golden hour’.
Why just before dusk? because in the morning most of the shops aren’t opened yet and the sun is scorching hot during the day. You may also captured great photographs during the golden hour and enjoying the light and listen to the hawkers inviting you to buy their stuffs.

I usually spare a time to visit this street market when i’m in town, especially on Sunday.

My itinerary here usually consist of :
• A visit to the Sunday Toy Market at China Square Central just a little bit outside the Chinatown Street Market. At China Square Central i usually visit Ozzo to buy some designer toys.
• The Tin Tin Shop, to buy something or just a window shopping routines.
• Taking photos. I never get bored of this while have doing it for many years taking photos of the same Mariaman Temple or Tintin Shop facade.
• Treat myself with some bacon or beers.
• I usually went to the Hong Lim Center to eat.

Been doing that routines since years ago, and I think i’ll be doing the routines again the next time I’m in town.

Chinatown Singapore
Chinatown Singapore
Chinatown Singapore
Chinatown Singapore
Chinatown Singapore
Chinatown Singapore
Chinatown Singapore
Chinatown Singapore
Chinatown Singapore
Chinatown Singapore
Chinatown Singapore
Chinatown Singapore
Paint Me For Free Chocolate
Paint Me For Free Chocolate
Chinatown Singapore
Chinatown MRT Station

Jakarta City Skyline

Kota Jakarta dan gedung-gedungnya yang selalu menarik untuk diamati. Ini ada beberapa foto gedung-gedung yang beberapa membentuk city skyline saat diambil dari sudut tertentu. Cukup beruntung bisa berada di balik kaca jendela beberapa gedung tinggi di kota ini.

Semua kaca jendela yang tampak di foto ini, menawarkan ceritanya masing-masing yang bisa dibilang tidak akan mungkin bisa dialami semua di masa hidup saat ini. Mengalami beberapa saja dari jutaan kemungkinan cerita tersebut saja sudah membuat saya bahagia.

Masih ada beberapa lokasi yang saya harap bisa dihampiri lagi untuk menangkap pemandangan menarik seperti ini. Karena kota selalu memberikan cerita berbeda saat dilihat dari sudut yang lain.

Dan saya menyukai cerita dari sudut atas ini.

September 2017.

Jakarta City skyline as seen from Grand Indonesia's CGV
City skyline as seen from Grand Indonesia’s CGV
Jakarta City skyline as seen from Grand Indonesia's CGV
City skyline as seen from Grand Indonesia’s CGV
Jakarta City Skyline as seen from Westin Hotel, Gama Building
Jakarta City Skyline as seen from Westin Hotel, Gama Building
Jakarta City Skyline as seen from Westin Hotel, Gama Building
Jakarta City Skyline as seen from Westin Hotel, Gama Building
Jakarta City Skyline as seen from Westin Hotel, Gama Building
Buildings as seen from Westin, Gama Building
Jakarta City Skyline as seen from Westin Hotel, Gama Building
Jakarta City Skyline as seen from Westin Hotel, Gama Building
Jakarta City Skyline as seen from Westin Hotel's Room, Gama Building
Jakarta City Skyline as seen from Westin Hotel’s Room, Gama Building
Jakarta City Skyline as seen from Westin Hotel's Room, Gama Building
Jakarta City Skyline as seen from Westin Hotel’s Room, Gama Building
Jakarta City Skyline as seen from a bridge in Rasuna Said
Jakarta City Skyline as seen from a bridge in Rasuna Said
Plaza Indonesia 2017

30 Photos from an Afternoon Walk from Geylang to Singapore National Stadium

[et_pb_section admin_label=”section”]
[et_pb_row admin_label=”row”]
[et_pb_column type=”4_4″]
[et_pb_text admin_label=”Text”]
I’ve never been to this part of Singapore before. Turns out to be a very nice part of the town,  with a lot of food, beautiful old buildings, and lovely sunbath.

I was here to watch the XX concert at the Indoor Stadium with Judifth. Most of the photos taken during the walk from the hotel to the venue, at the hotel, and around Geylang no farther than 30 minutes walk from lor 4 where I stayed.

Here are some photos taken during the short trip, all captured from my Xiao Mi phone.  Edited with VSCO.

There are still more pictures, but I think i’ll keep the rest for myself.

Singapore Stadium

Old Airport Road Hawker Center

Singapore National Stadium Bridge
Bridge to the Singapore National Stadium
Lorong in Geylang
Somewhere in Geylang

 

Geylang Singapore
Around Geylang
Singapore Stadium
There’s a field on the way to the Singapore Stadium.

 

Cheap hotel in Geylang; Kim Tian (Han) Hotel
A modest room with a view
cheap hotel in Geylang; Kim Tian Hotel (han)
Kim Tian Hotel (Han) at 29 Geylang Lor 4

 

Singapore National Stadium Road
Stadium Road
National Stadium Singapore
sunsetting on the way to the Stadium

 

Blocs Inc Specialty Coffee
Blocs Inc Specialty Coffee
Geylang Singapore
Somewhere

 

nicoll highway
A view from the bridge at Nicoll Hwy
cheap hotel geylang singapore
my modest hotel room

 

Hotel in Geylang
Geylang Lor 4
Geylang
skirt of Geylang

 

Singapore National Stadium Bridge
the bridge to the National Stadium

Singapore National Stadium Bridge
Singapore National Stadium Bridge
Singapore National Stadium Bridge
Singapore National Stadium Bridge

 

Singapore National Stadium Bridge
view from the Singapore National Stadium Bridge
the bridge on Nicoll highway
the bridge on Nicoll highway

 

Nicoll Highway
Field


[/et_pb_text]
[/et_pb_column]
[/et_pb_row]
[/et_pb_section]

Mixed Feelings Vol.02 at That’s Life Coffee

Mixed Feelings

Hari Minggu kemarin saya menuju That’s Life Coffee untuk menghadiri Mixed Feelings 02: The Journey Unwritten. Sebuah pameran yang cukup saya antisipasi, karena kelima perupa muda ini memiliki karakter yang sangat kuat. Selain itu juga karena Arterous mendukung acara ini.

Lima orang perupa muda tersebut adalah Criwill, Hwang Tony, Liffi Wongso, Novan Anggono dan Nykkhu yang sejak bulan April 2016 telah mengikuti program inkubasi yang dipimpin oleh Atreyu Moniaga.

Pameran ini akan berlansung sampai tanggal 7 Mei 2017.

Berikut ini adalah keterangan karya mereka, yang saya copy dari press-release yang disebarkan.

Karya-karya Criwill melukiskan pergumulannya mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk dalam gaya surealisme. Hwang Tony mengambil inspirasi dari sebuah cerita pendek karya Tampan Destawan. Liffi Wongso merekam mimpi-mimpinya yang beraneka ragam di atas kertas menggunakan warna-warna terang yang dipadukan dengan berani. Novan Anggono menghadirkan koleksi karya seni kaligrafi yang melukiskan petikan-petikan kalimat tulisan Jewel – musisi, penulis dan aktris Amerika Serikat. Nykkhu menggunakan cat minyak di atas kertas kanvas untuk memamerkan kepingan-kepingan kepribadiannya di usia kedua puluh.

Enjoy.

Nykkhu
Nykkhu
Criwill
Criwill
Mixed Feelings
Novan Anggono
Tony Hwang
Tony Hwang
Liffi Wongso
Liffi Wongso
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
That's Life Coffee
That’s Life Coffee
Mixed Feelings
Soundscape for every artwork
notebook
Notebook merchandise by Arterous
That's Life Coffee
That’s Life Coffee

Yogyakarta pt.01

Papricano Tirtodipuran Jogjakarta

Mendapat undangan untuk menghadiri acara pertunangan teman saya sejak di sekolah menengah, yang hanya mengundang sedikit kerabat saja. Kebiasaan menunda-nunda, menjelang hari-H saya baru mencari tiket murah ke Jogja, yang mana itu mustahil di musim libur. Masih bisa dapet tiket aja itu udah dianggap beruntung.

Akhirnya dihari Natal saya terbang ke Jogja dengan dua rencana besar:

  • Menghadiri pertunangan Sasa dan Klaus, sambil temu kangen dengan genk ‘bakmi’.
  • Keliling Prawirotaman dan Tirtodipuran nyobain makanan dan kopi sambil nyari tempat-tempat nyantai yang asik.

Pertunangan berhasil dihadiri, tempat-tempat nyantai yang asik juga berhasil ditemukan. Rasa-rasanya jadi ingin tinggal lebih lama di daerah ini dan menjelajah lebih dalam.

Berikut ini adalah hasil penjelajahan hari pertama dan kedua di daerah Prawirotaman dan Tirtodipuran.

h-1
Begitu tiba di hotel, saya lansung menuju Tirtodipuran demi mengisi perut yang lapar. Tujuan pertama adalah Papricano di sebelah Ruang Seduh Jogja. Sebuah cantina Mexico yang tentu saja menyediakan masakan khas Mexico yang rasanya sudah disesuaikan untuk lidah orang Indonesia.

Papricano Tirtodipuran Jogja
Papricano

Saya mencoba Burrito dan Horchata, oke juga dan rasanya akan segera kembali ke Papricano jika ke Jogja lagi.

Di Papricano ini saya janjian dengan Ana yang datang dengan pacar barunya, mereka baru saja dari gudeg Bu Lilis dan ingin makan cake di Lotus Mio. Lotus Mio ini masih di Tirtodipuran dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Lotus Mio Tirtodipuran Jogja
Lotus Mio

Karena masih lapar, saya memesan Ayam Kari khas Riau di Lotus Mio ini. Enak juga.  Setelah itu saya disamper oleh Komang, salah seorang penggiat kancah musik Indie kota ini. Kita melanjutkan obrolan ke Mouton, yang terletak agak di mulut jalan Tirtodipuran.

Iga di Mouton ini enak banget dimakan pakai nasi. Selesai dari Mouton kita mampir ke Green Host untuk menjumpai Dochi. Kebetulan saya juga memesan kemeja hitam untuk menghadiri resepsi esok hari. Kebetulan juga si Dochi ini ulang tahun dan akan berada di Jogjakarta untuk waktu yang cukup panjang, karena sedang persiapan pembukaan flagship store Sunday Sunday Co di daerah Seturan.

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar sambil ngantuk-ngantuk, saya pun pulang ke hotel untuk beristirahat mempersiapkan diri untuk hari kedua.

hari H

Tanggal 26 Desember 2016 ini adalah alasan utama saya ke Yogyakarta. Selain saya, masih ada beberapa orang lagi yang memiliki tujuan yang sama. Dua diantaranya menjadi teman baru saya berkeliling dari pagi sampai menjelang sore.

Bersama Yasmin Purba dan Ree, saya berjalan kaki menjelajah gang-gang kecil menuju Tirtodipuran. Sekalian nunggu Yanne mendarat di Yogyakarta. Target utama kita adalah Ruang Seduh. Di perjalanan menuju Ruang Seduh kita menemukan beberapa bar yang tampaknya menarik, namun karena alasan waktu kita tidak mampir dikesempatan kali ini.

 

 

Tirtodipuran
Tirtodipuran

 

hotel murah tirtodipuran
Rumah Tua di gang-gang daerah Tirtodipuran

 

Mural di Tirtodipuran
Mural di Tirtodipuran

 

Mural di Tirtodipuran
Mural di Tirtodipuran

 

Mural di Tirtodipuran
Gang penuh mural di Tirtodipuran

 

Tirtodipuran
Tirtodipuran

 

Ruang Seduh Jogja
Seven Seeds Beans di Ruang Seduh Jogja

 

Coffee Shop di Tirtodipuran
Manual Pouring di Ruang Seduh Jogjakarta

 

Lemi di depan Ruang Seduh Jogjakarta
Lemi di depan Ruang Seduh Jogjakarta

 

Papricano Tirtodipuran Jogjakarta
Lemi di depan Papricano

 

Pingpong Affair Jogjakarta
Pingpong Affair

Setelah Ruang Seduh, kita berjalan kaki menuju Prawirotaman untuk mampir ke Warung Heru, dengar-dengar menu rawonnya enak.  Rupanya kabarnya benar.

Setelah ngobrol-ngobrol panjang, kita memutuskan untuk pulang ke hotel dan bersiap-siap untuk tujuan utama kita ke Yogyakarta; makan malam pertunangan Sasa dan Klaus di Sasanti Resto.

Bersambung ke bagian 2.

Rawon Warung Heru Prawirotaman
Rawon Warung Heru Prawirotaman

 

Hotel murah Prawirotaman
Bangku

 

hotel murah prawirotaman
Omah salam

 

Prawirotaman
Prawirotaman

 

sasanti resto jogja
Sasa & Klaus
sasanti resto jogja
sasanti resto jogja

sasanti resto jogja

Ke Kota Tua

Kopi Rempah (Gahwa) Pekojan

Saya sedang mendapat pekerjaan menulis tentang Kota Tua Jakarta, maka itu tidak ada salahnya berkunjung sekali lagi ke area ini dan mencari detail lain yang biasanya terlewatkan.

Kari Lam Gang Gloria
Kari Lam Gang Gloria
Toko Sejahtera Gang Gloria
Toko Sejahtera Gang Gloria
Ko Tang
Pangkas Rambut Ko Tang
Pangkas Rambut Ko Tang
Pangkas Rambut Ko Tang
Sin Hap Hoat Moon Cake
Sin Hap Hoat Moon Cake
Liong Gang Gloria
Liong Gang Gloria
Kalimati Glodok
Kalimati Glodok
Mie Belitung Gang Kalimati
Mie Belitung Gang Kalimati
Kopi Rempah (Gahwa) Pekojan
Kopi Rempah (Gahwa) Pekojan
pasar kalimati Glodok
gang kecil di pasar kalimati Glodok
Kalimati
Kalimati
Mipan
Mipan
Gahwa Pekojan
Gahwa Pekojan
Kaak Pekojan
Umi dan bang Husein sedang di dapur
Kaak Pekojan
Kaak bikinan Umi
Gahwa Pekojan
Gahwa Pekojan
Gahwa Pekojan
Bang Husein
Masjid Langgar Tinggi
Masjid Langgar Tinggi
kids
Kids
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pulang ke Wae Rebo

cara menuju wae rebo

Seringkali dalam sebuah trip, perbincangan dengan teman seperjalanan itu juga sama berkesannya dengan perjalanan dan tujuan dari perjalanan itu sendiri.

“Be here now”

adalah kata yang sudah sering saya dengar, dan kali ini saya dengar kembali dari oom Dondy Bratha. Ia bercerita tentang konsep mengenai bersatunya jiwa dan raga untuk menjadi manusia yang paripurna.

Untuk menjadi satu dan mengalami keadaan saat ini dan di tempat ini. Satu kalimat sederhana yang membantu saya menikmati setiap detik dan langkah dalam perjalanan panjang menuju desa Wae Rebo.

Sudah cukup lama saya merencanakan trip ini, sempat juga menggalang dana via #Artfortrip. Sempat tertunda karena berbagai hal, dan akhirnya perjalanan ini jadi juga dan membuat saya banyak belajar mengenai berbagai hal di perjalanan panjang ini. Di mana awalnya merasa saya sebagai orang kota memiliki lebih banyak privilese dan ingin berbagi, ternyata justru mereka yang memiliki lebih banyak kebahagiaan dan kebijaksanaan walaupun berada di daerah yang sangat jauh.

Perjalanan ini diprakarsai karib saya Ryan Koesuma yang sedang merencanakan trip selama libur panjang bersama teman-teman menyelamnya. Kita berangkat dengan anggota rombongan lima orang; saya, Ryan, Effendy, Roy, dan oom Dondy. Kecuali saya yang memutuskan akan pulang setelah Wae Rebo, yang lainnya melanjutkan trip dengan menyelam di perairan Flores.

Menuju Wae Rebo saat ini sudah lebih mudah dibanding sebelumnya, karena jalan raya beraspal mulus sudah siap dilewati mobil dari Labuan Bajo sampai Desa Denge. Perjalanan selama tujuh jam menjadi tidak membosankan karena pemandangan yang indah, dan kita bisa berhenti beberapa kali untuk mengapresiasi alam pantai dan gunung.

Berlima plus sopir bernama pak Lexi, kita melintasi jalan trans Flores dari Labuan Bajo menuju Desa Denge. Desa berpenduduk terakhir sebelum mencapai Wae Rebo. Kamu bisa menghubungi pak Lexi di nomer 085339002749 bilang aja tau dari Eric.

Di Desa Denge ini ada penginapan yang dikelola oleh pak Blasius Monta, yang juga merangkap kerja sebagai guru sekolah di SD Denge. Beliau adalah salah satu tokoh penting yang tercantum di buku “Pesan dari Wae Rebo”  oleh Yori Antar. Sempatkan diri kamu untuk membaca buku bersampul biru tersebut jika menginap di Denge Home Stay dan berbincanglah dengan pak Blasius atau anaknya mengenai Wae Rebo jika bisa.

Selain di Denge, kamu juga bisa menginap di Dintor. Penginapan menghadap laut yang dikelola oleh pak Martinus yang juga adalah kakak dari pak Blasius. Lokasinya sekitar 4 km sebelum desa Denge.

Di desa ini kami menyerahkan beberapa buku bacaan anak-anak kepada pak Blasius untuk menjadi koleksi perpustakaan di SD Denge.

Sekalian juga memberikan sebuah tanda mata berupa t-shirt, yang khusus didesain oleh National Perks untuk mendukung perjalanan ini.

Besok pagi sekitar pukul delapan kami memulai perjalanan, dan beruntung karena jarak trekking sekarang sudah didiskon 2 km jalan aspal yang bisa dilalui mobil. Sehingga menghemat tenaga dan waktu.

Tetapi kebetulan saya sedang tidak fit, menyebabkan saya sudah teler di 200 meter pertama di jalur menanjak. Kemudian muntah-muntah tidak jauh dari lokasi teler pertama. Mulai pusing karena darah tidak mengalir lancar ke kepala, sehingga saya disarankan untuk tidur sebentar oleh teman-teman lainnya.

Awalnya sungkan karena jadi menghambat perjalanan naik, namun yang lain meyakinkan untuk tenang saja, yang penting kita tetap naik. Maka saya tidur, berkonsentrasi dan merenungkan kalimat “Be Here Now”.

Sambil mengatur napas dan membiarkan darah mengalir lebih lancar, saya memperhatikan dedaunan yang bergerak dilewati angin, awan-awan yang berbaris, suara-suara burung, sampai suara-suara langkah yang lewat di samping.

Menyadari kalau selama perjalanan di awal tadi saya lebih banyak berfikir mengenai tujuan, ingin foto ini itu, kepikiran macam-macam sehingga lupa dengan nafas dan kalau trekking ini juga sebaiknya dinikmati selagi ada kesempatan.

3 kali saya berhenti untuk izin tidur sebentar, dan beberapa kali untuk mengatur napas sepanjang 2.5 kilometer pertama. Setelah itu, jalur menjadi relatif lebih mudah dilewati dan kita sampai di Pondok Kasih Ibu setelah 4.5 jam.

Rata-rata rombongan lain menempuh rute trekking dalam waktu 2-3 jam. Ada juga yang ngebut dan sampai dalam waktu 1.5 jam.

Sesampainya di desa, kami menyimpan semua kamera demi menghormati salah satu tata cara berkunjung ke Wae Rebo: Tidak boleh merekam sebelum melewati upacara adat.

Kami disambut di Rumah Utama oleh Ami Raphael, salah satu tetua adat. Beliau menyambut kami dan membacakan sebuah doa yang kurang lebih artinya menjelaskan kalau saya bukan lagi orang luar, tetapi anak kandung Wae Rebo yang sedang pulang menengok kampung halaman.

Terharu saya, karena dengan ini saya bisa ‘pulang’ kelebih banyak tempat. Setelah sebelumnya di beberapa desa lain yang pernah dikunjungi juga disambut untuk menjadi bagian keluarga. Hanya saja sayangnya saya belum sempat ‘pulang’ lagi ke banyak ‘rumah’ tadi.

Di rumah utama ini tergantung seperangkat alat tabuh, yang sebaiknya kamu tanyakan sendiri mengapa tergantung disitu jika mencapai Wae Rebo.

Setelah upacara adat yang singkat, kami bersalaman dan berkenalan. Hal yang menarik, karena kita selalu berkenalan dengan setiap warga Wae Rebo yang dijumpai sejak dari Denge. Rupanya perkenalan itu lebih dari sekedar keramahan, karena yang disebut keluarga kan memang sebaiknya saling mengenal nama.

Seselesainya upacara adat, kami semua menuju rumah Mbaro Niang paling ujung dan beristirahat.

Akhirnya kami berhasil pulang ke Wae Rebo.

•••

Video pengenalan bahasa singkat ini saya buat karena terinspirasi dari ragam bahasa yang ada di Indonesia. Walau belum komprehensif, tapi saya rasa cukup untuk dihafalkan sedikit. Jadi kalau kamu berhasil ‘pulang’ ke Wae Rebo, masih ada bahasa ibu yang bisa diucapkan.

ps:
• Kontak pak Blasius Monta di 081339350775. Sebaiknya via SMS karena sinyal susah. Kamu bisa bertanya detail harga-harga apa saja yang perlu kamu siapkan. Penginapan, Porter, Menginap di Wae Rebo dan administrasi.
• Di Wae Rebo kamu akan tinggal di ruangan besar bersama 25 orang lain, maka siapkan diri menghadapi berbagai macam manusia. Akan ada yang ngorok, dan lain-lain.
• Pastikan perbekalan mu cukup. Selagi di kota, persiapkan snack, air minum dan vitamin jika dibutuhkan. Karena kadang jadwal makannya rada telat.

cara menuju wae rebo
Menuju Wae Rebo
menuju ke wae rebo
Berhenti sebentar menikmati alam
menuju ke wae rebo
menuju ke wae rebo
Denge Home Stay
Desa Denge, desa terakhir sebelum trekking ke Wae Rebo
Wae Rebo kids
Sesi bermain dengan kamera. Hasilnya adalah foto di bawah
wae rebo
Marcel, Bapak Raphael, dan dua cicitnya
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo coffee
Wae Rebo coffee
Wae Rebo
Wae Rebo guide
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo Kid
Wae Rebo
Wae Rebo kids
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo
kopi Wae Rebo
Wae Rebo
Wae Rebo

Selepas perjalanan ini, saya mencoba membuat illustrasi.