Art for the Masses • Affordable Pop Art by Orange Gallery

Minggu lalu saya lewat Marina Square Singapore lalu tidak sengaja melewati sebuah ruangan dengan karya seni yang tampak cukup akrab. Di ruangan yang tidak terlalu besar itu terpajang beberapa karya yang relatif murah dari seniman favorit saya seperti Luke Chueh, Jason Freeny, Frank Kozik, dan Tristan Eaton.

Continue reading “Art for the Masses • Affordable Pop Art by Orange Gallery” »

Mixed Feelings Vol.02 at That’s Life Coffee

Mixed Feelings

Hari Minggu kemarin saya menuju That’s Life Coffee untuk menghadiri Mixed Feelings 02: The Journey Unwritten. Sebuah pameran yang cukup saya antisipasi, karena kelima perupa muda ini memiliki karakter yang sangat kuat. Selain itu juga karena Arterous mendukung acara ini.

Lima orang perupa muda tersebut adalah Criwill, Hwang Tony, Liffi Wongso, Novan Anggono dan Nykkhu yang sejak bulan April 2016 telah mengikuti program inkubasi yang dipimpin oleh Atreyu Moniaga.

Pameran ini akan berlansung sampai tanggal 7 Mei 2017.

Berikut ini adalah keterangan karya mereka, yang saya copy dari press-release yang disebarkan.

Karya-karya Criwill melukiskan pergumulannya mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk dalam gaya surealisme. Hwang Tony mengambil inspirasi dari sebuah cerita pendek karya Tampan Destawan. Liffi Wongso merekam mimpi-mimpinya yang beraneka ragam di atas kertas menggunakan warna-warna terang yang dipadukan dengan berani. Novan Anggono menghadirkan koleksi karya seni kaligrafi yang melukiskan petikan-petikan kalimat tulisan Jewel – musisi, penulis dan aktris Amerika Serikat. Nykkhu menggunakan cat minyak di atas kertas kanvas untuk memamerkan kepingan-kepingan kepribadiannya di usia kedua puluh.

Enjoy.

Nykkhu
Nykkhu
Criwill
Criwill
Mixed Feelings
Novan Anggono
Tony Hwang
Tony Hwang
Liffi Wongso
Liffi Wongso
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
Mixed Feelings
That's Life Coffee
That’s Life Coffee
Mixed Feelings
Soundscape for every artwork
notebook
Notebook merchandise by Arterous
That's Life Coffee
That’s Life Coffee

Not A Spiki Show @ Plastic Culture

An evening well spent at ‘Not A Spiki Show’ at Plastic Culture with the Brotherhood of Toys folks. :)

Not A Spiki Show is a small exhibition by Tony Nakanari Shiaw showcasing his custom toys. A very talented artist from Orlando.

Here are some photos from the event.

Not A Spiki Show
Erich and Nakanari
Not A Spiki Show
Justin and his latest possession.
Not A Spiki Show
Kong Andri and Kendy Tan
Not A Spiki Show
Nakanari and me.
Not A Spiki Show
The BOT kids
Not A Spiki Show
Jojo, The Mbamoe Vectory Couple, and photobomb by Joshua
Not A Spiki Show
Not A Spiki Show
Not A Spiki Show
Not A Spiki Show
Not A Spiki Show
Not A Spiki Show
Not A Spiki Show
Not A Spiki Show
Not A Spiki Show
Not A Spiki Show
Not A Spiki Show
Social House
Not A Spiki Show
Hotel Indonesia
Not A Spiki Show
Indra’s awesome artwork on my sketchbook 
Not A Spiki Show
Indra’s awesome Mecha Gacha at David’s notebook.
Not A Spiki Show
Joshua drawing on my notebook. 

125.600 Spesimen Sejarah Alam

Beberapa waktu lalu, saya dan teman saya Ana mengunjungi pameran seni/sains di Komunitas Salihara. Ini adalah beberapa foto yang ditangkap dari pameran tersebut.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bagian depan pameran
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bahan bacaan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Salah satu caption karya
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Karya repro
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ana dan instalasi kupu-kupu

spesimen-sejarah-alam-20150908_010

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Untuk dibaca.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Spesimen burung
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
untuk dibaca juga.
spesimen-sejarah-alam-20150908_016
Kulit orangutan
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Foto spesimen

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

spesimen-sejarah-alam-20150908_020
Contoh produk yang menggunakan bahan kelapa sawit
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Untuk dibaca.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Spesimen kupu-kupu
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Burung
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Burung-burung
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kita punya banyak sekali jenis burung.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Masih burung
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tampak samping
spesimen-sejarah-alam-20150908_032
Katak

spesimen-sejarah-alam-20150908_034

spesimen-sejarah-alam-20150908_037

spesimen-sejarah-alam-20150908_038

Cakrawala a Solo Exhibition by R.E. Hartanto

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sore ini di dalam galeri hanya ada saya dan hasil goresan tangan seniman bernama R.E. Hartanto. Di depan saya ada dua ekor dobberman sedang menatap kearah saya dari balik lukisan. Saya mendekat untuk menikmati goresan cat minyak yang membentuk rupa dua dobberman, untuk beberapa saat saya tertegun dan menikmatinya. Saya mulai memahami perbedaan antara seniman baru dan seniman yang bermakna, perbedaan itu ada pada pulasan warna dan guratan yang luwes dan efisien.

Saya bangga bisa mengenal perupa bernama R.E. Hartanto. Awalnya saya mengagumi karyanya yang tergantung di satu sudut Commonroom Bandung, seri karya bertema samurai. Dengan hati gembira saya sempat berbincang beberapa kali. Sampai akhirnya persimpangan hidup memisahkan kita pada jarak dan waktu. Tidak ada rasa kehilangan pada awalnya, namun saat saya menemukan akun instagramnya, saya merasakan rindu pada guratan garis-garis yang luwes dan khas karya beliau.

Berbahagialah kita yang hidup di era instagram, sehingga jarak dan waktu bisa terpangkas untuk kembali menikmati karya mas Tanto ini. Sudah berbulan-bulan saya menikmati coretan, tulisan, kritik dan bagi ilmu dari Mas Tanto aka Dr Rudolfo. Kadang ia membuat sketsa dan menulis cerita yang sureal nan absurd, kadang ia membuka kelas instagram dan meminta peserta kelasnya menggambar papanya untuk kemudian dikomentarin. Namun sayangnya, saya tidak bisa mengapresiasi guratan garis manual jika hanya menggunakan layar handphone yang kecil.

Kesempatan akhirnya datang untuk bisa berjumpa secara analog. Mas Tanto menyelenggarkan pameran di Edwin’s Gallery yang relatif mudah dijangkau. Hanya saja karena berbagai sebab, saya terpaksa melewatkan pembukaan dan jadinya melewatkan kesempatan berjabat tangan dan mungkin mengucap terimakasih atas inspirasinya secara lansung.

Akhirnya saya ada di dalam galeri dan menikmati waktu yang singkat untuk mengapresiasi karya-karya yang bermakna.

Setelah meminta izin pada penjaga galeri, saya kemudian mengambil foto-foto berikut. Setelah gambar terekam dan saya berjalan keluar, saya menyadari kalau goresan-goresan yang tadi saya resapi rupanya beberapa terekam di batin. Mungkin suatu saat nanti saya akan bisa melukis singa dengan penuh makna menggunakan guratan yang seluwes dan seefisien beliau.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Barrage Drawing Exhibition

alexander-benedict-001

Alexander Benedict dikenal sebagai Mayatschism adalah figur yang sangat inspiratif. Saya beruntung bisa mengenalnya di awal era 2000-an, saat itu saya belum lama tinggal di Bandung. Sebagai mahasiswa muda yang merasa bosan dengan hal yang “itu-itu saja”, mahasiswa baru ini sangat terkesan dengan karakter ilustrasi Alex. Tengkorak, setan, kuntilanak, decapitated body or soul, and anykind of ghouls. Ia juga teman saya bersama-sama mengapresiasi kegelapan Misfits, Danzig dan Samhain. Diselingi Craddle Of Filth dan nonton konser Kubik bareng-bareng.

Saya juga mencuri tehnik memulas garis spidol snowman menggunakan kuas basah darinya, yang masih saya pergunakan sampai belasan tahun kemudian.

Setelah saya pindah ke Jakarta, komunikasi kami menjadi lebih jarang. Kabar dari sohib saya ini hanya sekali dua kali, seperti pameran kecil, merilis merchandise t-shirt, atau menjadi kasir sukarela di sebuah bar. Kadang kangen juga meneriakkan “plak tuplak tuplak… ayo naik kuda…” di deretan penonton pada acara punk rock dimana ada Alex dan bandnya tampil.

Sampai suatu saat di Instagram saya menemukan gambar tengkorak yang sangat khas. Garis yang membawa kembali ingatan saya nongkrong di ruangan kecil sambil mendengarkan Danzig bersabda, garis yang membawa memori kepada sampul CD dengan tulisan MUNTAH di kovernya. Sebuah feed instagram yang membuat saya ingin kembali ke suatu sore, hujan, didalam sedan tua duduk berdempetan menuju lokasi panggung punkrock.

Sambil menikmati akun instagram Mayatschism, saya pikir memang sudah waktunya si Alex ini dikenal oleh lebih banyak orang lewat karyanya. Saya juga merasa beruntung diberi kesempatan untuk menulis cerita ini. Jika kamu berkesempatan membaca tulisan ini maka terberkatilah diri mu, karena apa yang kamu pegang adalah hasil penantian belasan tahun. Rasanya mungkin seperti pasangan yang akhirnya diberi karunia anak setelah belasan tahun, atau seperti… (coba pikirkan sendiri). Diberkatilah wahai semua pihak yang berhasil membuat Alexander Benedict aka Mayatschism berpameran dan mencetak buku ini. Ini adalah babak baru untuk sahabat saya Alex.

Akhir kata… HAIL Mayatschism. Let’s go where eagles dare.

Eric Wirjanata

Jakarta. 11 May 2015
(revised 10 June 2015)

alexander-benedict-002

alexander-benedict-003

alexander-benedict-004

alexander-benedict-005

alexander-benedict-006

alexander-benedict-007

alexander-benedict-008

alexander-benedict-009

alexander-benedict-010

alexander-benedict-011

Exi(s)t #3 at Dia.Lo.Gue

Tiga dari teman-teman saya bercerita mereka lolos seleksi untuk bisa ikut pameran, dan betapa senangnya mereka bisa ikut workshop-workshop yang diadakan untuk mempersiapkan karya mereka. Saya yang sudah mengenal ke-brilian-an ketiga teman saya tersebut; Monica Hapsari, Edita Atmaja dan Nastasha Abigail tentu mengantisipasi malam itu untuk bisa menghadiri pembukaan dan mengagumi hasil jerih payah mereka.

Dan benar, semua karya yang ada disana cukup memberikan asupan inspirasi yang cukup baik.

Edita Atmaja menampilkan karyanya berupa toko bunga, dimana pengunjung bisa ‘merangkai’ bunga dari sketsa-sketsa bunga karya Edita. Lalu ada tiga karya besar berupa panel kayu dengan ‘sketsa’ toko bunga yang membuat saya cukup lama mengagumi detail dan goresan di permukaan kayu tersebut. Kerja keras dan detail yang mengagumkan.

Nastasha Abigail menginterupsi foto-foto lama dengan boneka maskot joged-joged, yang memang boneka maskot joged-joged itu seringkali menginterupsi kehidupan saya di jalan raya. Ide-ide anak ini memang seringkali absurd namun brilian.

Monica Hapsari memberikan pengalaman spiritual dengan audio dan karya berputar, dimana kemudian saya kembali mempertanyakan makna hidup kala didalam ruangan gelap tersebut.

Yang lainnya juga keren-keren, tapi sudah lupa nama-nama nya.
Info-info itu seharusnya bisa didapat di tautan ini, tapi belum diupdate.

exist-dialogue-001 exist-dialogue-002-edita_atmaja exist-dialogue-003 exist-dialogue-004 exist-dialogue-005_edita_atmaja

Nastasha Abigail
Nastasha Abigail

exist-dialogue-007-

Edita Atmaja
Edita Atmaja
Monica Hapsari
Monica Hapsari

exist-dialogue-010 exist-dialogue-011 exist-dialogue-012 exist-dialogue-pandai_besi exist-dialogue-13

the Batman Gank
the Batman Gank

Visiting REDRAW | Drawing Exhibition at Edwin’s Gallery

So some of my friends currently exhibit their work at REDRAW | Drawing Exhibition at Edwin’s Gallery in Kemang. After some failed attempt to visit the gallery, i finally find a time to visit it with one of the artist; Lala Bohang.

After the visit, i’m now have a strong urge to hone my drawing skills.

Here are some photos from the exhibition.

redraw_exhibition-edwin-gallery-01

saleh_husein-02

redraw_exhibition-edwin-gallery

lala_bohang-redraw-03

emte-redraw

sanchia_hamidjaja-sleeping_training

sanchia_hamidjaja-01

saleh_husein-redraw-ship

lala_bohang-redraw-02

lala_bohang-redraw

redraw-exhibition-03

redraw-exhibition-02

agus_suwage-redraw

lee_jinju

Izumi_Akiyama-02

mia_maria-redraw

Izumi_Akiyama-01

REDRAW
Drawing Exhibition

Agus Suwage
Ayu Arista Murti
Emte (M. Taufik)
Hendra Priyadhani
Indra Widiyanto
Iwan Effendi
Lala Bohang
Nasirun
Restu Ratnaningtyas
S. Teddy D
Saleh Husein
Sanchia Hamidjaja
Sandy Yudha
Surya Wirawan
Theresia Agustina Sitompul
Tamara Ferioli (Italy)
Izumi Akiyama (Japan)
Lee Jinju (Korea)

EDWIN’S GALLERY
Kemang Raya No.21, Jakarta Selatan, Indonesia

Wajah by Atreyu Moniaga

Diingatkan oleh si Jojo mengenai pembukaan pameran karya-karya Atreyu Moniaga di That’s Life Coffee, kebetulan ada waktu dan memang saya ingin bertemu dengan Arris maka saya menyempatkan diri mengunjungi kedai kopi tersebut.

Sampai disana, sudah sedikit sekali tersisa tempat untuk bergerak. Tapi untung masih bisa bertemu beberapa kawan dan ngobrol sebentar dan menikmati karya-karya yang tergantung rapih.

“saya menggambarkan idola saya, orang-orang yang membantu saya, sahabat, dan orang-orang yang memberi warna, yang membuat saya menjadi siapa saya sekarang”

Kalimat tersebut adalah kata kunci pameran ini, sayangnya saya tidak sempat memperhatikan satu demi satu nama-nama yang tertera disamping setiap lukisan. Tetapi rasanya ada Annie Lennox.
Sebelum pulang saya sempatkan dulu membeli satu buah print untuk menambah koleksi print seniman Indonesia.

Tempat yang selalu menarik untuk dikunjungi, selain kopinya enak juga karena ditempat ini juga saya seringkali berkenalan dengan orang-orang baru. Menarik.

Johana Kusnadi
Johana Kusnadi
Robot
Robot
the exhibition from bellow
the exhibition from bellow
Atreyu Moniaga
Atreyu Moniaga
Group photo
Group photo

atreyu_moniaga-04

atreyu_moniaga-03

atreyu_moniaga-02

atreyu_moniaga-01

Arris the coffee shop owner
Arris the coffee shop owner

Enjoyed some coffee while appreciating Garis by Mahendra Nazar

Beberapa hari lalu saya ke That’s Life Coffee dengan agenda mencoba biji-biji kopi yang baru didapatkan, sambil menikmati karya pameran Mahendra Nazar.

Mahendra Nazar adalah seorang perupa, ia memamerkan enam karya (salah satunya berkolaborasi dengan Studio Mili) dan sahabatnya Putra “Babet” Buchari membuat karya audio.

Karya-karya menarik yang mungkin akan lebih menarik jika dibuat lebih besar atau dengan narasi yang menghubungkan cerita dari setiap karakter. Tapi saya tetap menikmati karya-karya yang ada. Coba klik www.summonstudio.tumblr.com untuk mencari tahu lebih jauh mengenai seniman ini.

Sementara itu, memang selalu menarik berdiskusi mengenai kopi. Saya mendapatkan berbagai insight baru dan sebagai oleh-oleh; sebungkus biji kopi Jawa saya bawa pulang. :)

 

by Mahendra Nazar

by Mahendra Nazar

by Mahendra Nazar
by Mahendra Nazar
Wilson and That's Life Coffee
Wilson and That’s Life Coffee
by Mahendra Nazar
by Mahendra Nazar
awesome works by Mahendra Nazar
awesome works by Mahendra Nazar
WIlson and buildings
WIlson and buildings
Chaos Bunny just chillin
Chaos Bunny just chillin
Arris aeropressing a luwak coffee beans
Arris aeropressing a luwak coffee beans

Pameran Seni Visual Karya Seniman Residensi Galeri Nasional Indonesia 2014

Jadi tadi sore saya berkunjung ke Pameran Seni Visual Karya Seniman Residensi Galeri Nasional Indonesia 2014. Terutama karena sahabat saya Lala Bohang berpartisipasi didalam pameran ini. Sebuah pameran yang menarik, dan cukup membanggakan karena karya si Lala ini ternyata memang menarik, lugas dan interaktif.

Sejumlah buku fiktif dicetak dengan otobiografi fiktif dengan sedikit bumbu megalomaniac, tampaknya sebuah ambisi terselubung dari Lala.

Satu lagi yang menarik adalah sebuah ekosistem, dengan sepasang burung yang terbang lepas didalam ruangan dan bebauan yang didesain khusus. Mengingatkan saya pada karya instalasi kupu-kupu Damien Hirst namun tentu saja dengan karakteristik yang berbeda.

Karya lainnya juga menarik tentu saja ya.

book-of-questions-002 laura-mergoni-03 laura-mergoni-02 laura-mergoni-01 maria-vasquez-castel-02 maria-vasquez-castel-01 galeri-nasional-04 galeri-nasional-03 galeri-nasional-02 lala-bohang-03 lala-bohang-02 saya-lebih-besar-dari-semua-pujian-dan-kritik-yang-saya-terima lala-bohang-01 young_choi-galnas-01 young_choi-galeri_nasional tetsuro_kano-galeri-nasional fachriza-jayadimansyah-03 tetsuro-kano-galnas fachriza-jayadimansyah-galeri-nasional-01

Joshua Mays “Egress” Exhibition at Glitch

Joshua Mays a painter, muralist and illustrator from USA just opened his first exhibition in Indonesia at Glitch Network Gallery in SCBD Jakarta. And it was an awesome exhibition with his massive artwork and murals exhibited.

He got some awesome paint strokes and the colour palette got it’s own personality.

You may want to connect with him through the instagram where he post some of his works.

joshua-may-egress-glitch-jakarta-16 joshua-may-egress-glitch-jakarta-15 joshua-may-egress-glitch-jakarta-14 joshua-may-egress-glitch-jakarta-13 joshua-may-egress-glitch-jakarta-12
dika-toolkit_rukmunal-hakim

Awesome artists; Dika Toolkit and Rukmunal Hakim

bryan-lie_mighty-jaxx
Bryan Lie (Foxboss) and Jackson (Mighty Jaxx)

joshua-may_eric-wirjanata_feisal-hamka
Joshua Mays, me, Feisal Hamka

joshua-may
Man of the evening; Joshua Mays

glitch-mighty-jaxx
The awesome Mighty Jaxx couple.

joshua-may-egress-glitch-jakarta-11 joshua-may-egress-glitch-jakarta-10 joshua-may-glitch-jakarta-10 joshua-may-glitch-jakarta-09 joshua-may-glitch-jakarta-08 joshua-may-glitch-jakarta-07 joshua-may-glitch-jakarta-06 joshua-may-glitch-jakarta-05 joshua-may-glitch-jakarta-04 joshua-may-glitch-jakarta-03 joshua-may-glitch-jakarta-02 joshua-may-glitch-jakarta-01